Alibaba Gugat Pemerintah AS Usai Dicap Terkait Militer China
Raksasa teknologi asal China, Alibaba Group, menggugat pemerintah Amerika Serikat setelah dimasukkan ke dalam daftar perusahaan yang dianggap memiliki keterkaitan dengan militer China oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat.
Dalam gugatan yang diajukan ke Pengadilan Federal San Jose, California, Alibaba menilai keputusan Pentagon tersebut dilakukan secara sewenang-wenang dan tidak memiliki dasar hukum maupun fakta yang kuat.
“Penetapan tersebut tidak memiliki dasar fakta maupun hukum,” demikian isi dokumen gugatan yang diajukan Alibaba.
Daftar hitam terbaru yang dirilis Pentagon pada Juni 2025 mencantumkan sekitar 80 entitas yang dinilai mendukung kepentingan militer China. Selain Alibaba, sejumlah perusahaan besar lain seperti Baidu dan BYD juga masuk dalam daftar tersebut.
Alibaba Bantah Terkait Militer China
Melalui pernyataan resminya, Alibaba menegaskan bahwa perusahaan tersebut merupakan penyedia layanan e-commerce dan komputasi awan (cloud computing) global yang beroperasi secara komersial dan tidak memiliki hubungan dengan militer China.
“Alibaba bukanlah perusahaan militer China dan bukan bagian dari strategi fusi militer-sipil apa pun,” ujar juru bicara perusahaan.
Alibaba juga menilai keputusan Pentagon dapat merusak reputasi bisnis perusahaan di tingkat internasional. Karena itu, perusahaan memilih menempuh jalur hukum guna meminta namanya dicabut dari daftar tersebut.
Dampak Masuk Daftar Hitam Pentagon
Berdasarkan ketentuan yang berlaku, mulai 30 Juni, Pentagon tidak diperbolehkan menjalin kontrak baru dengan perusahaan yang masuk daftar maupun anak perusahaan yang berada di bawah kendalinya.
Meski demikian, pencantuman dalam daftar tersebut tidak secara otomatis melarang aktivitas bisnis Alibaba di Amerika Serikat, namun dapat meningkatkan tekanan politik dan risiko bagi investor maupun mitra bisnis perusahaan.
Dalam dokumen gugatannya, Alibaba menegaskan bahwa struktur kepemilikan saham perusahaan didominasi oleh investor institusional global, termasuk perusahaan keuangan besar asal Amerika Serikat seperti JPMorgan Chase, Citigroup, dan BlackRock.
China Balas Kebijakan AS
Ketegangan ekonomi antara Washington dan Beijing kembali meningkat setelah pemerintah China merespons kebijakan tersebut dengan memberlakukan kontrol ekspor terhadap 10 perusahaan Amerika Serikat yang bergerak di sektor pertahanan dan pertambangan mineral tanah jarang.
Langkah saling balas ini menambah panjang daftar perselisihan perdagangan dan teknologi antara dua ekonomi terbesar dunia yang dalam beberapa tahun terakhir terus bersaing di bidang teknologi, kecerdasan buatan, semikonduktor, hingga kendaraan listrik.
Baca Juga
Komentar