Profesi Tarot Reader Hari Ini Kian Dilirik di Era Digital, Terungkap Fakta Spiritualitas Jadi Peluang Cuan di Platform Online
Jakarta – Profesi tarot reader kini tidak lagi dipandang sebatas aktivitas spiritual atau hobi semata. Di era digital yang serba terbuka, kemampuan membaca kartu tarot mulai bergeser menjadi salah satu peluang kerja alternatif yang menjanjikan, terutama di kalangan anak muda yang aktif di media sosial.
Fenomena ini terlihat dari meningkatnya minat belajar tarot, baik melalui kelas daring maupun komunitas, yang tidak hanya berfokus pada aspek spiritual, tetapi juga pada potensi monetisasi keterampilan tersebut sebagai sumber penghasilan tambahan.
Praktisi dari komunitas Ruang Hening, Graham Wiratama, menyebut tren ini terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir seiring terbukanya akses informasi dan platform digital seperti TikTok, Instagram, hingga layanan konsultasi online.
“Semakin banyak orang yang belajar tarot karena melihat ini bukan hanya spiritual, tapi juga bisa jadi skill yang menghasilkan. Rata-rata setelah belajar, mereka menjadikannya sebagai side job untuk menambah income,” ujar Graham.
Tarot dari Ruang Spiritual ke Ruang Digital
Perubahan cara pandang terhadap tarot tidak terjadi secara tiba-tiba. Jika dahulu tarot identik dengan dunia mistik dan hal-hal yang dianggap eksklusif, kini narasinya mulai bergeser menjadi lebih rasional dan berbasis keterampilan.
Menurut Graham, sebagian besar peserta kelas tarot tidak langsung menjadikan profesi ini sebagai pekerjaan utama. Namun, banyak di antaranya yang memanfaatkan kemampuan tersebut sebagai pekerjaan sampingan yang fleksibel.
Di era digital, layanan tarot reading juga mengalami transformasi. Jika sebelumnya dilakukan secara tatap muka, kini proses konsultasi banyak dilakukan melalui chat, video call, hingga live streaming di media sosial.
Platform seperti TikTok bahkan menjadi salah satu ruang promosi paling efektif bagi para tarot reader untuk menjangkau klien baru. Konten-konten seputar “general reading”, “love reading”, hingga “career reading” menjadi format yang cukup populer dan mudah viral.
Dua Model Pembayaran: Per Pertanyaan hingga Per Durasi
Dalam praktiknya, jasa tarot reading saat ini memiliki beberapa model monetisasi yang cukup fleksibel. Graham menjelaskan, umumnya ada dua pola pembayaran yang digunakan oleh praktisi.
Pertama adalah sistem by question, di mana klien membayar berdasarkan jumlah pertanyaan yang diajukan. Model ini banyak digunakan untuk sesi singkat atau konsultasi ringan.
Kedua adalah sistem by duration, yaitu pembayaran berdasarkan waktu konsultasi, misalnya per 30 menit atau per jam. Model ini lebih sering digunakan untuk sesi mendalam atau pembacaan yang lebih kompleks.
Seiring bertambahnya pengalaman dan reputasi, tarif seorang tarot reader juga dapat meningkat. Bahkan, beberapa praktisi yang aktif di platform digital disebut mampu memperoleh penghasilan yang cukup signifikan.
“Beberapa teman tarot reader pendapatannya sudah hampir dua digit per bulan, jadi wajar kalau profesi ini mulai dilihat sebagai peluang,” ungkap Graham.
Meski begitu, ia menekankan bahwa tidak semua peserta pelatihan akan bertahan lama di bidang ini. Sebagian berhenti di tengah jalan karena keterbatasan waktu, konsistensi, atau karena menjadikan tarot hanya sebagai eksplorasi keterampilan.
Bukan Harus Indigo: Tarot Bisa Dipelajari
Salah satu stigma yang masih melekat pada profesi tarot reader adalah anggapan bahwa seseorang harus memiliki kemampuan indigo atau sixth sense untuk bisa membaca kartu dengan benar. Namun, hal ini dibantah oleh Graham.
Menurutnya, tarot pada dasarnya memiliki struktur teori dan simbol yang bisa dipelajari oleh siapa saja.
“Semua orang bisa baca tarot karena teorinya ada, bukunya ada. Jadi tidak harus punya sixth sense,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa setiap orang memiliki intuisi, hanya saja tingkat kepekaannya berbeda-beda. Dalam praktiknya, kemampuan membaca tarot lebih banyak dipengaruhi oleh pemahaman simbol, latihan interpretasi, serta kemampuan komunikasi dengan klien.
Pandangan ini juga mulai diterima di beberapa komunitas tarot modern, terutama yang mengadopsi pendekatan psikologis dan konseling dalam praktiknya.
Ruang Hening dan Model Pelatihan Tarot Modern
Komunitas Ruang Hening menjadi salah satu contoh lembaga yang aktif membuka kelas pembelajaran tarot secara terstruktur. Menurut Graham, sejak tahun lalu kelas tarot mulai dibuka secara rutin, baik online maupun offline.
Sebelumnya, komunitas ini lebih banyak berfokus pada layanan pembacaan tarot untuk klien individu. Namun seiring meningkatnya minat masyarakat, mereka mulai mengembangkan kelas edukasi.
Biaya pelatihan yang ditawarkan pun bervariasi. Untuk kelas dasar online, tarif dimulai dari sekitar Rp795.000. Sementara kelas offline di Jakarta dibanderol sekitar Rp1.050.000.
Untuk tingkat lanjutan atau intermediate, peserta dapat mengikuti paket bundling sekitar Rp1,65 juta, yang biasanya sudah termasuk kartu tarot serta akses grup diskusi untuk pendampingan lanjutan.
Menariknya, sebagian peserta disebut mampu mengembalikan modal pelatihan dalam waktu relatif singkat setelah mulai membuka jasa tarot secara mandiri.
“Ada yang setelah belajar langsung praktik, bahkan bisa balik modal sampai tiga atau empat kali lipat,” kata Graham.
Sertifikasi Masih Jadi Tantangan
Meski pertumbuhan profesi tarot reader cukup pesat, hingga kini belum ada standar sertifikasi resmi yang diakui secara nasional di Indonesia, misalnya di bawah lembaga seperti BNSP.
Saat ini, sertifikat yang diberikan oleh komunitas atau lembaga pelatihan masih bersifat certificate of attendance atau tanda keikutsertaan kelas.
Ruang Hening sendiri mengakui bahwa mereka sedang berupaya mengembangkan sistem sertifikasi yang lebih formal agar profesi tarot reader memiliki standar kompetensi yang lebih jelas di masa depan.
“Kami sedang berusaha ke arah sana agar ke depan bisa ada sertifikasi resmi,” ujar Graham.
Ketiadaan standar ini membuat profesi tarot reader masih berada di area abu-abu dari sisi profesionalisme, meski secara praktik sudah memiliki pasar yang cukup jelas.
Antara Intuisi, Teori, dan Kebutuhan Pasar
Dalam praktik profesional, pendekatan tarot tidak selalu sama untuk setiap klien. Graham menjelaskan bahwa pembacaan untuk individu biasanya lebih mengandalkan intuisi dan pendekatan personal.
Namun, untuk kebutuhan yang lebih besar seperti acara komunitas atau klien korporasi, pendekatan berbasis teori dan struktur pembacaan menjadi lebih diutamakan.
Kombinasi antara intuisi, teori simbol tarot, serta kemampuan komunikasi dinilai menjadi kunci utama bagi seorang tarot reader untuk berkembang secara profesional.
Selain itu, aspek konseling juga mulai masuk ke dalam praktik tarot modern, di mana pembacaan tidak hanya bersifat prediksi, tetapi juga refleksi psikologis bagi klien.
Profesi Baru di Era Ekonomi Digital
Perkembangan profesi tarot reader menunjukkan bagaimana ekonomi digital membuka ruang baru bagi berbagai keterampilan non-konvensional untuk menjadi sumber penghasilan.
Dari yang awalnya dianggap sekadar aktivitas spiritual, tarot kini mulai diposisikan sebagai skill yang dapat dipelajari, dipraktikkan, dan dimonetisasi secara serius.
Meski masih menghadapi tantangan seperti stigma sosial dan belum adanya sertifikasi resmi, tren ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin terbuka terhadap profesi alternatif di era digital.
Pada akhirnya, tarot tidak lagi hanya soal kartu dan simbol, tetapi juga tentang bagaimana seseorang membaca, memahami, dan mengkomunikasikan makna—baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain.
Baca Juga
Komentar