Terbaru Kelurahan Pasirlayung Optimalkan Maggot dan Kompos untuk Atasi Persoalan Sampah
Bandung – Pemerintah Kota Bandung terus memperkuat pengelolaan sampah berbasis masyarakat. Salah satu contoh keberhasilan terlihat di Kelurahan Pasirlayung, Kecamatan Cibeunying Kidul, yang berhasil mengelola sampah organik langsung di wilayah melalui kolaborasi antara warga, rumah maggot, peternakan ayam, dan bank sampah terintegrasi.
Program yang dijalankan pada 2026 ini menjadi bagian dari upaya penanganan sampah kota berbasis kewilayahan agar volume sampah yang dikirim ke Tempat Penampungan Sementara (TPS) dapat ditekan secara signifikan.
Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Pasirlayung, Nani Mulyani, mengatakan pengelolaan sampah organik di wilayahnya kini sudah berjalan optimal sehingga tidak lagi menjadi beban bagi TPS.
“Alhamdulillah di Kelurahan Pasirlayung kami sudah berupaya mengelola sampah sebaik-baiknya. Sampah organik sudah dapat kami tuntaskan di wilayah sehingga tidak lagi dibuang ke TPS,” ujarnya.
Saat ini terdapat sejumlah titik pengolahan sampah organik yang tersebar di berbagai wilayah RW, antara lain di RW 02, RW 12, RW 08, RW 06 kawasan Saung Angklung Udjo, RW 13 Perumahan Bumi Asri, serta area kantor kelurahan.
Sampah organik yang dihasilkan warga setiap hari dikumpulkan dan dikirim ke lokasi-lokasi tersebut untuk diolah menjadi pakan maggot, pakan ternak ayam, hingga bahan baku kompos.
“Setiap hari petugas pengangkut sampah membawa sampah organik ke rumah maggot maupun kandang ayam. Karena itu sampah organik sudah tidak lagi dikirim ke TPS,” jelas Nani.
Selain fokus pada sampah organik, Kelurahan Pasirlayung juga memperkuat pengelolaan sampah anorganik melalui 13 Bank Sampah Unit yang tersebar di seluruh wilayah kelurahan. Sampah yang memiliki nilai ekonomi dipilah, ditimbang, dan disalurkan ke Bank Sampah Induk melalui kerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandung.
Sistem tersebut tidak hanya membantu mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Kami melibatkan masyarakat, petugas Gaslah, mamang sampah, serta seluruh pengelola lingkungan. Pengelolaan sampah harus menjadi tanggung jawab bersama karena sampah berasal dari kita sendiri,” katanya.
Di beberapa wilayah RW, pengelolaan sampah juga didukung fasilitas tambahan seperti ground tank, insinerator, serta pengolahan kompos dan pupuk cair. Hasil pengolahan tersebut kemudian dimanfaatkan kembali oleh warga untuk kebutuhan pertanian maupun penghijauan lingkungan.
“Setiap minggu warga datang mengambil kompos maupun pupuk cair hasil pengolahan sampah tersebut untuk dimanfaatkan kembali,” ungkapnya.
Sementara itu, Pendamping Kawasan Bebas Sampah Kelurahan Pasirlayung, Herlan Soemantri, menjelaskan bahwa keberhasilan program ini berawal dari perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah tangga.
“Sampah harus mulai dipilah dari rumah. Setelah dipilah kemudian diangkut oleh petugas Gaslah setiap hari. Sampah organik yang belum terpilah akan dipilah kembali oleh petugas sebelum masuk ke tempat pengolahan,” katanya.
Menurut Herlan, sampah organik kemudian dipisahkan ke dalam tiga kategori utama, yakni sebagai pakan ternak, pakan maggot, dan bahan kompos melalui drum komposter.
“Dengan sistem ini seluruh sampah organik dapat dimanfaatkan. Tidak ada yang terbuang sia-sia,” ujarnya.
Data lapangan menunjukkan produksi sampah organik di Kelurahan Pasirlayung mencapai sekitar 560 kilogram per hari atau sekitar 12 ton per bulan. Sementara kapasitas pengolahan rumah maggot yang ada saat ini berada pada kisaran 50 hingga 75 kilogram per hari.
Ke depan, kapasitas pengolahan tersebut akan terus ditingkatkan hingga mencapai 300 kilogram per hari agar semakin banyak sampah warga yang dapat ditangani langsung di tingkat wilayah.
“Target ke depan sesuai rencana Pak Linus, kapasitas pengolahan akan ditingkatkan menjadi sekitar 300 kilogram per hari sehingga lebih banyak sampah warga yang dapat ditangani langsung di wilayah,” jelas Herlan.
Ia menegaskan, kunci keberhasilan program tersebut terletak pada kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, akademisi, dan berbagai pihak terkait.
“Kolaborasi menjadi kunci. Pemerintah, masyarakat dan perguruan tinggi harus bersama-sama membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan,” katanya.
Salah satu inovasi yang diterapkan adalah integrasi antara peternakan ayam dan budidaya maggot. Dalam sistem ini, kotoran ayam dimanfaatkan sebagai media budidaya maggot, sementara sampah organik warga menjadi sumber pakan utama sehingga seluruh siklus berjalan secara berkelanjutan.
“Inovasinya adalah seluruh unsur saling terhubung. Kotoran ayam tidak menjadi masalah karena dimanfaatkan oleh maggot. Sampah organik warga juga langsung habis terolah. Sistem ini sangat cocok diterapkan di kawasan permukiman karena tidak menimbulkan bau,” jelasnya.
Melalui sistem tersebut, seluruh sampah organik yang masuk dipastikan habis terolah tanpa menyisakan residu yang harus dibuang ke TPS.
“Semua habis. Tidak ada sisa sampah organik yang harus dibuang lagi,” tegas Herlan.
Nani Mulyani berharap model pengelolaan sampah yang diterapkan di Pasirlayung dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain di Kota Bandung dalam membangun budaya pengelolaan sampah dari sumbernya.
“Harapan kami, mari bersama-sama mengelola sampah dengan baik. Sampah berasal dari kita, maka kita pula yang harus bertanggung jawab mengelolanya. Jika seluruh masyarakat bergerak bersama, persoalan sampah di Kota Bandung dapat kita selesaikan mulai dari lingkungan masing-masing,” pungkasnya.
Baca Juga
Komentar