Putra Bengkulu Dr Agustomi Masik Resmi Duduki Jabatan Strategis Kemendes, Harapan Baru SDM Desa Menuju Indonesia Emas
JAKARTA — Rotasi pejabat eselon I di lingkungan Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi kembali menyita perhatian publik nasional. Dari sejumlah nama yang dilantik, sosok Dr Agustomi Masik menjadi figur yang paling banyak diperbincangkan setelah dipercaya menduduki posisi strategis sebagai Kepala Badan Pengembangan SDM dan Pemberdayaan Masyarakat Desa dan Daerah Tertinggal.
Pelantikan tersebut dipimpin langsung oleh Menteri Desa Yandri Susanto dalam agenda penyegaran birokrasi kementerian yang dinilai menjadi bagian penting dari percepatan pembangunan desa menuju visi besar Indonesia Emas 2045.
Penunjukan Agustomi Masik bukan sekadar rotasi jabatan administratif biasa. Banyak pihak menilai posisi yang kini diembannya memiliki peran sangat penting dalam menentukan arah pembangunan desa berbasis sumber daya manusia di masa depan.
Di tengah tantangan ketimpangan pembangunan antarwilayah dan masih besarnya jumlah desa tertinggal di Indonesia, keberadaan lembaga yang menangani pengembangan SDM desa dianggap menjadi salah satu kunci utama keberhasilan pembangunan nasional jangka panjang.
Nama Agustomi Masik sendiri bukan sosok baru di dunia birokrasi nasional. Putra daerah asal Kota Manna, Bengkulu Selatan itu dikenal memiliki perjalanan karier panjang dan cukup matang di lingkungan pemerintahan.
Lahir dan besar di Bengkulu, Agustomi menempuh pendidikan dasar hingga menengah di daerah asalnya sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan tinggi hingga meraih gelar doktoral.
Sebagai alumni SMAN 01 Manna tahun 1991, Agustomi dikenal oleh rekan-rekannya sebagai pribadi pekerja keras dan konsisten membangun karier melalui jalur pendidikan dan birokrasi.
Perjalanan panjangnya di dunia pemerintahan dimulai saat menjadi aparatur sipil negara di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.
Dari sana, kariernya terus berkembang hingga dipercaya menduduki sejumlah posisi strategis, termasuk pernah terlibat dalam proyek pembangunan Ibu Kota Nusantara.
Pengalaman di berbagai proyek pembangunan nasional tersebut dinilai menjadi modal besar dalam memahami persoalan pembangunan berbasis wilayah, termasuk tantangan desa dan daerah tertinggal.
Kini, tanggung jawab yang diembannya jauh lebih besar karena berkaitan langsung dengan pengembangan kualitas manusia di desa-desa seluruh Indonesia.
Dalam keterangannya kepada media dari kediamannya di Jakarta, Agustomi memilih merespons pelantikan tersebut dengan nada rendah hati.
“Saya low profile saja, tidak ada yang perlu dibanggakan. Ini amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan, bukan hanya kepada kementerian, tetapi juga kepada bangsa dan negara,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mendapat respons positif dari berbagai kalangan yang menilai sikap rendah hati menjadi modal penting dalam memimpin lembaga yang bersentuhan langsung dengan masyarakat desa.
Agustomi juga menekankan bahwa pembangunan desa tidak boleh hanya berfokus pada pembangunan fisik semata.
Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia menjadi fondasi utama agar desa mampu berkembang secara mandiri dan berkelanjutan.
“Kita harus mampu mengubah potensi yang kurang produktif menjadi kekuatan pembangunan. Itu tidak hanya soal program, tetapi bagaimana SDM di desa bisa berdaya dan mandiri,” jelasnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat yang mulai menempatkan kualitas SDM sebagai prioritas utama pembangunan nasional.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah memang terus mendorong transformasi pembangunan desa melalui peningkatan kapasitas aparatur desa, penguatan ekonomi lokal, digitalisasi layanan desa, hingga pengembangan pendidikan dan pelatihan masyarakat.
Namun tantangan di lapangan masih sangat besar.
Data pemerintah menunjukkan masih banyak desa di Indonesia yang menghadapi keterbatasan akses pendidikan, kesehatan, teknologi, dan peluang ekonomi.
Ketimpangan kualitas SDM antarwilayah juga masih menjadi persoalan serius yang memengaruhi percepatan pembangunan nasional.
Karena itu, posisi Kepala Badan Pengembangan SDM dan Pemberdayaan Masyarakat Desa dinilai sangat strategis dalam menjembatani kebutuhan riil masyarakat desa dengan kebijakan pemerintah pusat.
Pelantikan Agustomi juga disambut antusias oleh masyarakat Bengkulu yang merasa bangga salah satu putra daerah dipercaya mengisi jabatan tinggi di tingkat nasional.
Tokoh masyarakat Bengkulu, Miftahul Jazim, menyebut penunjukan Agustomi sebagai kebanggaan besar bagi masyarakat daerah.
“Sebagai masyarakat Bengkulu, tentu kami sangat bersyukur. Ini bukan hanya kebanggaan daerah, tetapi juga harapan bahwa putra daerah bisa memberi kontribusi nyata di tingkat nasional,” ujarnya.
Ia juga menilai kolaborasi antara Agustomi dan Menteri Desa Yandri Susanto yang sama-sama berasal dari Bengkulu berpotensi membawa energi baru dalam pembangunan desa nasional.
Menurutnya, sinergi dua tokoh asal Bengkulu tersebut diharapkan mampu memperkuat perhatian pemerintah terhadap pembangunan desa dan daerah tertinggal di berbagai wilayah Indonesia.
Dukungan serupa datang dari kalangan pendidikan.
Rekan alumni Agustomi, Gunawan Oktawarman, menyebut jabatan baru tersebut sebagai amanah besar yang membawa harapan besar bagi dunia pendidikan desa.
“Saya bangga, ini amanah besar. Semoga bisa membawa dampak nyata, terutama bagi masyarakat desa dan dunia pendidikan di daerah,” katanya.
Gunawan menyoroti pentingnya penguatan pendidikan usia dini di desa sebagai fondasi membangun generasi unggul menuju Indonesia Emas 2045.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan desa tidak hanya diukur dari infrastruktur, tetapi juga kualitas pendidikan, karakter, dan kemampuan masyarakatnya.
Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, pembangunan SDM desa memang menjadi isu yang semakin penting.
Indonesia diproyeksikan akan menghadapi bonus demografi besar pada 2045, di mana mayoritas penduduk berada dalam usia produktif.
Namun bonus tersebut hanya akan menjadi keuntungan apabila kualitas SDM mampu bersaing secara global.
Karena itu, desa kini dipandang bukan lagi sekadar objek pembangunan, melainkan fondasi utama masa depan ekonomi dan sosial Indonesia.
Lebih dari separuh penduduk Indonesia tinggal di wilayah pedesaan. Artinya, keberhasilan pembangunan desa akan sangat menentukan keberhasilan Indonesia menjadi negara maju.
Dalam konteks inilah, peran Agustomi Masik menjadi sangat penting.
Ia tidak hanya dituntut merancang kebijakan, tetapi juga memastikan implementasi program benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat desa di lapangan.
Tugas tersebut tentu tidak ringan mengingat kondisi desa di Indonesia sangat beragam, baik dari sisi geografis, ekonomi, budaya, maupun kualitas SDM.
Namun dengan pengalaman panjang di birokrasi dan pembangunan wilayah, banyak pihak optimistis Agustomi mampu membawa pendekatan baru dalam pengembangan SDM desa.
Pelantikan ini pada akhirnya bukan hanya tentang rotasi pejabat, melainkan juga simbol harapan baru terhadap masa depan pembangunan desa Indonesia.
Jika pembangunan SDM desa mampu berjalan efektif, maka target besar menuju Indonesia Emas 2045 bukan lagi sekadar slogan, melainkan visi yang dapat benar-benar diwujudkan.
Baca Juga
Komentar