949 Gempa Susulan Guncang Sulawesi Tengah, BMKG Turun Langsung Petakan Kerusakan Pascagempa M6,7 di Sigi dan Palu
Palu – Upaya pemulihan pascabencana gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang Sulawesi Tengah terus dilakukan secara intensif. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengerahkan tim khusus untuk melakukan survei makroseismik dan mikrotremor guna memetakan tingkat kerusakan bangunan serta kondisi geologi bawah permukaan di wilayah terdampak, terutama Kabupaten Sigi dan Kota Palu.
Gempa yang terjadi pada 16 Juni 2026 itu meninggalkan dampak signifikan terhadap permukiman warga dan sejumlah infrastruktur publik. Kabupaten Sigi menjadi wilayah yang mengalami kerusakan paling berat setelah tercatat menerima guncangan dengan intensitas mencapai VII MMI, tingkat yang mampu menyebabkan kerusakan sedang hingga berat pada bangunan yang tidak dirancang tahan gempa.
Direktur Seismologi Teknik, Geofisika Potensial, dan Tanda Waktu BMKG, Teguh Rahayu, mengungkapkan bahwa langkah cepat dilakukan sejak sehari setelah kejadian. Tim dari Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Wilayah IV Makassar bersama Stasiun Geofisika Kelas I Palu langsung diterjunkan ke lapangan untuk melakukan asesmen teknis dan koordinasi dengan pemerintah daerah.
Menurut BMKG, proses penanganan tidak hanya berfokus pada pendataan kerusakan fisik semata. Lembaga tersebut juga berupaya mengidentifikasi karakteristik geologi yang berpotensi memperbesar dampak guncangan di masa mendatang. Langkah ini dinilai penting untuk memperkuat strategi mitigasi bencana di kawasan yang berada pada jalur aktif kegempaan Indonesia.
Data terbaru hingga Jumat (19/6) menunjukkan aktivitas seismik di Sulawesi Tengah masih sangat tinggi. BMKG mencatat sebanyak 949 gempa susulan terjadi setelah gempa utama. Jumlah tersebut menjadi indikator bahwa energi tektonik di wilayah tersebut masih terus mengalami penyesuaian sehingga masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi guncangan lanjutan.
Dalam rangka mempercepat respons kebencanaan, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu turut mendampingi Kepala BNPB, Bupati Sigi, dan Pangdam XXIII/Palaka Wira Sulawesi Tengah melakukan peninjauan langsung ke lokasi terdampak. Kegiatan tersebut juga diisi dengan sosialisasi mengenai karakteristik gempa merusak dan langkah mitigasi kepada masyarakat setempat.
Survei makroseismik yang sedang berlangsung difokuskan pada verifikasi serta dokumentasi visual kerusakan bangunan. Tim BMKG menilai tingkat kerusakan setiap bangunan berdasarkan dampak nyata yang ditemukan di lapangan. Data tersebut nantinya akan menjadi dasar dalam penyusunan peta kerusakan yang lebih akurat.
Sementara itu, survei mikrotremor dilakukan untuk mempelajari kondisi tanah dan struktur bawah permukaan. Kajian ini penting karena karakteristik tanah tertentu dapat memperkuat efek guncangan gempa. Hasil analisis diharapkan mampu memberikan gambaran mengenai tingkat kerentanan wilayah terhadap kejadian serupa pada masa mendatang.
Temuan awal menunjukkan bahwa sebagian besar bangunan di Kota Palu mengalami kerusakan ringan hingga sedang. Berbeda dengan Kota Palu, Kabupaten Sigi menghadapi dampak yang lebih serius dengan dominasi kerusakan sedang pada rumah warga dan fasilitas publik. Fakta ini kembali menegaskan perlunya standar konstruksi tahan gempa yang lebih ketat di daerah rawan bencana.
BMKG menegaskan bahwa seluruh hasil survei akan dirangkum dalam laporan kajian teknis komprehensif yang akan menjadi acuan pemerintah dalam proses rehabilitasi, rekonstruksi, dan perencanaan mitigasi jangka panjang. Di tengah tingginya aktivitas gempa susulan, masyarakat diimbau tetap tenang, tidak mudah terpengaruh informasi yang belum terverifikasi, serta hanya mengandalkan informasi resmi dari BMKG sebagai sumber rujukan utama terkait perkembangan situasi kebencanaan di Sulawesi Tengah.
Baca Juga
Komentar