Terbaru Rabbani Khatulistiwa 2026 Dorong Ekonomi Syariah Kalbar 338 Ribu UMKM Tumbuhan Baru
PONTIANAK – Kalimantan Barat semakin menunjukkan diri sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi di kawasan Kalimantan. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi berbagai negara, provinsi berjuluk Bumi Khatulistiwa itu justru mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang impresif dan mulai menempatkan ekonomi syariah sebagai salah satu sumber pertumbuhan baru yang inklusif dan berkelanjutan.
Komitmen tersebut ditegaskan melalui penyelenggaraan Rangkaian Aksi Kolaborasi Membangun Ekonomi Syariah (RABBANI) Khatulistiwa 2026, sebuah agenda strategis hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat dan Bank Indonesia yang berfokus pada pengembangan rantai nilai halal, pemberdayaan UMKM, serta penguatan peran pesantren dalam ekosistem ekonomi syariah.
Acara yang digelar di Aula Keriang Bandong Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kalimantan Barat, Jumat (19/6/2026), menjadi momentum penting untuk memperkuat posisi Kalbar sebagai salah satu pusat pengembangan ekonomi syariah di Indonesia bagian barat.
Ekonomi Kalbar Tumbuh di Tengah Tantangan Global
Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Barat, Harisson, saat membuka RABBANI Khatulistiwa 2026 menegaskan bahwa kondisi ekonomi daerah saat ini menunjukkan tren yang sangat positif.
Menurutnya, Kalimantan Barat berhasil menjaga momentum pertumbuhan meski dunia masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perlambatan ekonomi global, gejolak geopolitik, hingga ketidakpastian perdagangan internasional.
Data terbaru menunjukkan bahwa perekonomian Kalimantan Barat pada 2025 tumbuh sebesar 5,39 persen, meningkat dibandingkan pertumbuhan tahun sebelumnya yang mencapai 4,90 persen.
Pencapaian tersebut bahkan menjadikan Kalbar sebagai salah satu provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di wilayah Kalimantan.
Lebih menarik lagi, pada triwulan I tahun 2026, ekonomi Kalbar kembali menunjukkan akselerasi dengan pertumbuhan mencapai 6,14 persen secara tahunan (year-on-year).
Angka tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi di daerah terus bergerak positif dan memiliki fondasi yang semakin kuat.
“Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi sekaligus ekspansi ekonomi daerah berlangsung dengan baik. Ini menjadi modal penting bagi Kalimantan Barat untuk terus memperkuat daya saing di tingkat nasional,” ujar Harisson.
UMKM Menjadi Tulang Punggung Ekonomi Daerah
Salah satu faktor utama yang menopang pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat adalah peran sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Pemerintah daerah mencatat terdapat sekitar 338 ribu UMKM yang aktif menjalankan kegiatan usaha di berbagai sektor ekonomi, mulai dari perdagangan, kuliner, pertanian, kerajinan hingga jasa.
Jumlah tersebut menjadi kekuatan besar yang mampu menjaga aktivitas ekonomi masyarakat tetap bergerak meskipun kondisi ekonomi global mengalami tekanan.
UMKM tidak hanya menjadi penyerap tenaga kerja terbesar, tetapi juga berperan penting dalam menciptakan nilai tambah ekonomi di tingkat lokal.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah bersama Bank Indonesia terus mendorong transformasi UMKM melalui digitalisasi, peningkatan kualitas produk, akses pembiayaan, hingga perluasan pasar.
Melalui RABBANI Khatulistiwa 2026, penguatan UMKM diarahkan agar lebih terintegrasi dengan konsep ekonomi syariah dan industri halal yang memiliki potensi pasar sangat besar.
Potensi Besar Industri Halal Kalimantan Barat
Selain UMKM, Kalimantan Barat juga memiliki potensi besar dalam pengembangan industri halal.
Data pemerintah menunjukkan terdapat lebih dari 5.100 pelaku usaha halal yang tersebar di berbagai wilayah Kalbar.
Jumlah tersebut mencerminkan besarnya peluang ekonomi syariah yang dapat dikembangkan lebih jauh, terutama mengingat mayoritas penduduk Kalbar merupakan konsumen potensial produk halal.
Industri halal saat ini tidak lagi terbatas pada makanan dan minuman semata. Ekosistem halal telah berkembang mencakup sektor fesyen muslim, kosmetik halal, farmasi, pariwisata ramah muslim, hingga layanan keuangan syariah.
Tren global menunjukkan permintaan terhadap produk halal terus meningkat setiap tahun, tidak hanya di negara-negara mayoritas muslim tetapi juga di pasar internasional.
Karena itu, penguatan rantai nilai halal menjadi salah satu fokus utama dalam pelaksanaan RABBANI Khatulistiwa 2026.
Dengan membangun rantai pasok halal yang kuat mulai dari produksi hingga distribusi, Kalbar diharapkan mampu meningkatkan daya saing produk lokal sekaligus memperluas akses pasar nasional dan internasional.
Pesantren Didorong Menjadi Pusat Kemandirian Ekonomi
Salah satu aspek menarik dalam RABBANI Khatulistiwa 2026 adalah keterlibatan pesantren sebagai bagian dari pengembangan ekonomi syariah.
Selama ini pesantren dikenal sebagai lembaga pendidikan keagamaan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, pesantren juga mulai didorong menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Melalui berbagai program ekonomi produktif, pesantren dapat menjadi motor penggerak kewirausahaan berbasis syariah yang melibatkan santri dan masyarakat sekitar.
Bank Indonesia bersama pemerintah daerah menilai pesantren memiliki peran strategis dalam membangun ekosistem ekonomi syariah karena memiliki jaringan sosial yang kuat serta kedekatan dengan masyarakat.
Penguatan ekonomi pesantren diharapkan mampu menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berbasis komunitas dan berkelanjutan.
Ekonomi Syariah Jadi Sumber Pertumbuhan Masa Depan
Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi syariah berkembang menjadi salah satu sektor yang mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat maupun daerah.
Indonesia yang memiliki populasi muslim terbesar di dunia dinilai memiliki peluang besar menjadi pemain utama dalam industri halal global.
Berdasarkan berbagai laporan internasional, nilai ekonomi halal dunia terus meningkat dan diperkirakan mencapai triliunan dolar dalam beberapa tahun mendatang.
Kondisi tersebut membuka peluang besar bagi daerah-daerah seperti Kalimantan Barat untuk mengambil bagian dalam rantai ekonomi halal global.
Melalui RABBANI Khatulistiwa 2026, pemerintah daerah ingin memastikan bahwa pelaku usaha lokal mampu memanfaatkan peluang tersebut secara maksimal.
Selain meningkatkan daya saing produk, pengembangan ekonomi syariah juga dinilai mampu menciptakan sistem ekonomi yang lebih inklusif karena memberikan akses yang lebih luas bagi masyarakat kecil untuk berkembang.
Kolaborasi Jadi Kunci Kesuksesan
Penyelenggaraan RABBANI Khatulistiwa 2026 menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi daerah tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja.
Kolaborasi antara pemerintah, Bank Indonesia, pelaku usaha, pesantren, lembaga keuangan syariah, akademisi, hingga masyarakat menjadi faktor utama dalam menciptakan ekosistem ekonomi yang sehat dan berkelanjutan.
Harisson menegaskan bahwa semangat kolaborasi tersebut harus terus diperkuat agar Kalimantan Barat mampu mempertahankan tren pertumbuhan positif sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Menurutnya, ekonomi syariah bukan hanya tentang transaksi keuangan, tetapi juga mencakup nilai-nilai keadilan, keberlanjutan, dan pemerataan ekonomi yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Menuju Pusat Ekonomi Syariah Regional
Dengan pertumbuhan ekonomi yang konsisten, jumlah UMKM yang besar, serta potensi industri halal yang terus berkembang, Kalimantan Barat dinilai memiliki peluang menjadi salah satu pusat ekonomi syariah regional di Indonesia.
RABBANI Khatulistiwa 2026 menjadi langkah strategis untuk mempercepat pencapaian target tersebut.
Di tengah perubahan ekonomi global yang semakin dinamis, penguatan sektor halal dan ekonomi syariah dapat menjadi fondasi baru yang mendorong pertumbuhan ekonomi lebih inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.
Jika momentum ini terus dijaga, Kalimantan Barat tidak hanya akan menjadi salah satu daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia, tetapi juga berpotensi menjadi model pengembangan ekonomi syariah yang sukses di tingkat nasional.
Baca Juga
Komentar