Waspada Kekeringan! BMKG Sebut 233 Zona di Indonesia Resmi Masuk Musim Kemarau
JAKARTA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan mulai memasuki musim kemarau pada pertengahan Juni 2026. Kondisi ini ditandai dengan semakin panjangnya periode hari tanpa hujan di sejumlah daerah, terutama Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, sejumlah wilayah telah mengalami hari tanpa hujan dalam kategori menengah hingga sangat panjang, yakni antara 11 hingga 60 hari berturut-turut.
“Sebagian besar wilayah Indonesia bagian selatan seperti Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara telah mengalami periode tanpa hujan kategori menengah hingga sangat panjang,” tulis BMKG dalam laporan resminya, Rabu (17/6/2026).
BMKG mencatat sebanyak 233 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 33,3 persen wilayah Indonesia kini telah resmi memasuki musim kemarau. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penurunan curah hujan mulai meluas dan berpotensi meningkatkan risiko kekeringan meteorologis di berbagai daerah.
Selain berkurangnya pasokan air, masyarakat juga diminta mewaspadai perubahan suhu udara yang cenderung lebih panas pada siang hari dan lebih dingin pada malam hingga pagi hari.
Meski demikian, BMKG menegaskan bahwa musim kemarau tidak berarti hujan akan berhenti sepenuhnya. Beberapa wilayah Indonesia bagian utara masih berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sangat lebat.
Dalam periode 11 hingga 14 Juni 2026, BMKG mencatat curah hujan tinggi terjadi di sejumlah daerah, di antaranya Sumatera Barat mencapai 139 mm per hari, Papua 94 mm per hari, Riau 89 mm per hari, Sulawesi Utara 79 mm per hari, Kalimantan Barat 77 mm per hari, dan Sulawesi Barat 63 mm per hari.
Fenomena tersebut dipengaruhi aktivitas Gelombang Rossby Ekuatorial dan Gelombang Kelvin yang masih aktif di beberapa wilayah Indonesia. Selain itu, terbentuknya sirkulasi siklonik di Samudera Hindia sebelah barat Sumatera dan sekitar Selat Makassar turut memicu pertumbuhan awan hujan yang cukup signifikan.
BMKG memperkirakan jumlah wilayah yang memasuki musim kemarau akan terus bertambah pada Dasarian III Juni 2026. Curah hujan pada musim kemarau tahun ini diprediksi berada di bawah normal di sebagian wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, hingga Papua.
Kondisi tersebut didukung oleh perkembangan fenomena El Nino Southern Oscillation (ENSO) yang mulai menunjukkan kecenderungan fase hangat dengan intensitas moderat di Samudera Pasifik tropis bagian tengah hingga timur.
Untuk sepekan ke depan, BMKG memprediksi hujan masih berpotensi terjadi akibat pengaruh Gelombang Kelvin, Gelombang Rossby Ekuatorial, sirkulasi siklonik, serta kondisi atmosfer yang masih labil di sejumlah wilayah Indonesia.
Masyarakat diimbau tetap mewaspadai potensi cuaca ekstrem, terutama hujan lebat disertai petir dan angin kencang yang masih berpeluang terjadi meskipun sebagian wilayah telah memasuki musim kemarau.
BMKG juga meminta pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan terhadap risiko kekeringan, kebakaran lahan, serta perubahan cuaca yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari dan sektor pertanian.
Baca Juga
Komentar