Terungkap Fakta Prajogo Pangestu Tambah Investasi di BREN, Borong 6,8 Juta Saham Saat Harga Tertekan
JAKARTA – Langkah miliarder Prajogo Pangestu kembali menjadi perhatian pelaku pasar modal. Di tengah tekanan berat yang masih membayangi saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), orang terkaya Indonesia itu justru memilih menambah kepemilikan sahamnya dalam jumlah besar.
Berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan, Prajogo Pangestu mengakumulasi sebanyak 6,8 juta saham BREN melalui serangkaian transaksi yang dilakukan pada 17 Juni 2026. Aksi korporasi tersebut dilakukan ketika harga saham BREN masih berada dalam tren pelemahan tajam sepanjang tahun berjalan.
Keputusan pendiri Grup Barito tersebut langsung memicu perhatian investor karena dilakukan di saat saham energi terbarukan andalannya telah kehilangan lebih dari separuh nilai kapitalisasi pasar sejak awal tahun.
Banyak pelaku pasar menilai aksi pembelian tersebut dapat menjadi sinyal penting mengenai keyakinan pemegang saham pengendali terhadap prospek jangka panjang perusahaan.
Prajogo Pangestu Tambah Kepemilikan Saham
Dalam laporan yang disampaikan kepada otoritas bursa, transaksi pembelian saham dilakukan sebanyak 15 kali dalam satu hari perdagangan.
Harga pembelian berada pada kisaran Rp3.740 hingga Rp3.880 per saham.
Dengan rentang harga tersebut, nilai transaksi yang digelontorkan Prajogo diperkirakan mencapai sekitar Rp25 miliar hingga Rp26,38 miliar.
Setelah transaksi selesai, jumlah saham BREN yang dimiliki langsung oleh Prajogo Pangestu meningkat menjadi 148,48 juta lembar atau setara 0,111 persen dari total saham beredar.
Posisi tersebut naik dibandingkan sebelum transaksi yang tercatat sebanyak 141,68 juta saham atau sekitar 0,1059 persen.
Dalam dokumen keterbukaan informasi disebutkan bahwa tujuan transaksi tersebut adalah untuk menambah investasi pribadi dengan status kepemilikan langsung.
Meski persentase kenaikannya relatif kecil dibandingkan total saham beredar perusahaan, langkah tersebut tetap menjadi perhatian karena dilakukan saat sentimen pasar terhadap saham BREN masih cenderung negatif.
Saham BREN Tertekan Sepanjang 2026
Pada penutupan perdagangan Rabu, 17 Juni 2026, saham BREN ditutup melemah 12 persen ke level Rp3.740 per saham.
Posisi tersebut jauh di bawah harga yang pernah dicapai pada awal tahun.
Berdasarkan data perdagangan, saham BREN telah mengalami koreksi sekitar 61,34 persen secara year to date (YTD) dari posisi Rp9.675 per saham pada 2 Januari 2026.
Penurunan lebih dari 60 persen dalam waktu kurang dari enam bulan menjadikan BREN sebagai salah satu saham dengan volatilitas tinggi di Bursa Efek Indonesia tahun ini.
Tekanan terhadap saham BREN tidak hanya berasal dari faktor internal perusahaan, tetapi juga dipengaruhi berbagai sentimen global.
Di antaranya adalah perubahan arah kebijakan suku bunga dunia, dinamika investasi energi bersih, rotasi dana investor ke sektor lain, hingga aksi ambil untung besar-besaran setelah reli spektakuler yang terjadi pada periode sebelumnya.
Meski demikian, sejumlah analis menilai bahwa fundamental bisnis energi terbarukan dalam jangka panjang masih memiliki prospek pertumbuhan yang menjanjikan.
Permintaan terhadap sumber energi rendah emisi terus meningkat seiring target dekarbonisasi yang dicanangkan banyak negara, termasuk Indonesia.
Mengapa Investor Mengikuti Langkah Orang Terkaya?
Di pasar modal, aksi pembelian saham oleh pemegang saham pengendali sering kali menjadi perhatian investor.
Pasalnya, manajemen dan pemegang saham utama umumnya memiliki pemahaman lebih mendalam mengenai kondisi bisnis perusahaan dibandingkan publik.
Ketika pemegang saham utama justru membeli saham saat harga sedang turun tajam, sebagian investor menganggap hal tersebut sebagai bentuk keyakinan terhadap prospek perusahaan dalam jangka panjang.
Namun demikian, para analis mengingatkan bahwa keputusan investasi tidak dapat hanya didasarkan pada aksi pembelian insider atau pemegang saham pengendali.
Investor tetap perlu memperhatikan kondisi fundamental perusahaan, valuasi, risiko bisnis, serta dinamika industri yang sedang berlangsung.
Dalam kasus BREN, pergerakan harga saham beberapa bulan terakhir menunjukkan bahwa sentimen pasar masih menjadi faktor dominan yang mempengaruhi volatilitas perdagangan.
BREN dan Masa Depan Energi Terbarukan
Sebagai salah satu emiten energi baru dan terbarukan terbesar di Indonesia, BREN memiliki portofolio bisnis yang berfokus pada pembangkit listrik panas bumi dan energi ramah lingkungan lainnya.
Sektor energi terbarukan saat ini menjadi salah satu industri yang mendapat perhatian besar dari investor global.
Komitmen pemerintah Indonesia untuk mencapai target net zero emission pada 2060 atau lebih cepat turut membuka peluang pertumbuhan bagi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang energi hijau.
Kebutuhan listrik nasional yang terus meningkat juga menciptakan ruang ekspansi bagi pengembangan proyek-proyek energi terbarukan.
Karena itu, sebagian investor jangka panjang masih melihat sektor ini sebagai salah satu tema investasi strategis untuk dekade mendatang.
Meski menghadapi tekanan harga saham dalam jangka pendek, prospek industri energi bersih secara global masih dinilai positif.
Prajogo Pangestu Tetap Orang Terkaya Indonesia
Terlepas dari fluktuasi harga saham BREN, posisi Prajogo Pangestu sebagai orang terkaya di Indonesia belum tergeser.
Berdasarkan data daftar miliarder Indonesia yang dirilis Forbes per 17 Juni 2026, Prajogo masih menempati posisi pertama dengan total kekayaan mencapai sekitar USD16,3 miliar atau setara Rp289,53 triliun.
Posisi tersebut menempatkannya di atas sejumlah konglomerat besar lainnya.
Urutan kedua ditempati Robert Budi Hartono dengan kekayaan sekitar USD15,8 miliar atau Rp280,65 triliun.
Sementara posisi ketiga diduduki pengusaha batu bara Low Tuck Kwong dengan total aset sekitar USD14,1 miliar atau setara Rp250,45 triliun.
Berikut daftar 10 orang terkaya Indonesia berdasarkan data Forbes per 17 Juni 2026:
-
Prajogo Pangestu – USD16,3 miliar
-
R. Budi Hartono – USD15,8 miliar
-
Low Tuck Kwong – USD14,1 miliar
-
Anthoni Salim – USD10,5 miliar
-
Sri Prakash Lohia – USD8,6 miliar
-
Tahir dan keluarga – USD7,9 miliar
-
Otto Toto Sugiri – USD7,8 miliar
-
Marina Budiman – USD5,6 miliar
-
Lim Haryanto Wijaya Sarwono – USD4,7 miliar
-
Chairul Tanjung – USD4,2 miliar
Daftar tersebut menunjukkan bahwa sektor energi, perbankan, teknologi, manufaktur, dan konsumsi masih menjadi sumber utama pembentukan kekayaan para konglomerat Indonesia.
Pasar Menunggu Sinyal Berikutnya
Aksi pembelian saham yang dilakukan Prajogo Pangestu menjadi salah satu peristiwa yang paling diperhatikan investor dalam perdagangan pekan ini.
Meski nilainya relatif kecil dibandingkan total kapitalisasi pasar BREN, transaksi tersebut memberi pesan bahwa pemegang saham utama masih menaruh kepercayaan terhadap prospek bisnis perusahaan.
Kini perhatian pasar akan tertuju pada langkah berikutnya dari manajemen maupun pemegang saham pengendali.
Jika aksi akumulasi saham berlanjut dalam beberapa waktu ke depan, hal itu berpotensi menjadi sentimen tambahan bagi pergerakan saham BREN.
Namun demikian, investor tetap perlu mencermati berbagai faktor eksternal seperti kondisi ekonomi global, arah suku bunga, harga energi dunia, serta perkembangan proyek-proyek energi terbarukan yang menjadi fondasi utama pertumbuhan perusahaan.
Di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi, langkah Prajogo Pangestu membeli jutaan saham BREN saat harga tertekan menjadi sinyal yang menarik untuk dicermati, sekaligus memperlihatkan bahwa keyakinan terhadap masa depan energi hijau Indonesia masih tetap terjaga.
Baca Juga
Komentar