Update IHSG Ambruk Hampir 30%, Saatnya Investor Borong Saham Murah?
JAKARTA — Tekanan besar yang menghantam pasar modal Indonesia dalam beberapa pekan terakhir mulai memunculkan secercah optimisme baru. Setelah terjun dalam hingga nyaris menyentuh level psikologis kritis, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kini dinilai memasuki fase jenuh jual ekstrem atau extremely oversold yang berpotensi membuka peluang technical rebound dalam waktu dekat.
Sejumlah analis menilai kondisi pasar saat ini mulai menarik untuk dicermati investor, terutama bagi pelaku pasar yang mencari peluang akumulasi saham murah setelah aksi jual besar-besaran yang terjadi sepanjang tahun berjalan.
Senior Technical Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, mengatakan tekanan tajam yang terjadi pada IHSG mulai menunjukkan indikasi pelemahan terbatas. Secara teknikal, indikator pasar memperlihatkan sinyal divergensi positif yang biasanya menjadi awal pembalikan arah.
Menurut Nafan, posisi IHSG saat ini sudah memasuki area sangat jenuh jual setelah berhasil menguji target teknikal “wave 5 / A alt.”.
“Berdasarkan analisa teknikal, IHSG sudah dalam kondisi extremely oversold dan menunjukkan positive divergence berdasarkan indikator RSI setelah berhasil menguji target wave 5 / A alt. Diharapkan fase pelemahan terbatas mulai terjadi,” ujar Nafan dalam riset tertulisnya, Jumat (22/5/2026).
Kondisi tersebut membuka peluang terjadinya technical rebound atau pemantulan harga dalam jangka pendek setelah koreksi dalam yang terjadi selama beberapa hari terakhir.
Sepanjang tahun berjalan, IHSG tercatat telah mengalami koreksi sekitar 29,51 persen. Penurunan tajam itu dipicu kombinasi tekanan global, keluarnya dana asing dari pasar domestik, serta meningkatnya kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi dan ketidakpastian suku bunga global.
Data perdagangan menunjukkan investor asing masih agresif melakukan aksi jual. Tercatat net foreign sell harian mencapai Rp508,11 miliar dengan akumulasi jual bersih asing sepanjang 2026 mencapai Rp50,91 triliun.
Meski demikian, tekanan besar tersebut justru membuat banyak saham unggulan kini diperdagangkan pada valuasi yang dinilai sangat murah atau deeply undervalued.
Nafan menilai kondisi ini berpotensi dimanfaatkan investor institusi domestik seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, maupun manajer investasi untuk melakukan akumulasi bertahap.
Fenomena ini biasa dikenal sebagai aksi bottom fishing, yakni strategi membeli saham ketika harga berada di area diskon besar dengan harapan memperoleh keuntungan saat pasar mulai pulih.
“Investor institusi domestik memiliki peluang besar memanfaatkan koreksi pasar untuk melakukan akumulasi saham secara bertahap,” katanya.
Secara teknikal, Mirae Asset memperkirakan level support IHSG berada pada area 6.081 hingga 5.815. Sementara level resistance diperkirakan berada di kisaran 6.347 sampai 6.511.
Di sisi lain, MNC Sekuritas menilai IHSG memang masih berada dalam tren koreksi meskipun potensi rebound mulai terlihat.
Analis MNC Sekuritas Herditya Wicaksana menjelaskan posisi pergerakan IHSG saat ini masih berada pada bagian dari wave [v] dari wave A dari wave (2), yang berarti tekanan turun belum sepenuhnya selesai.
“Posisi pergerakan IHSG saat ini diperkirakan masih berada pada bagian dari wave [v] dari wave A dari wave (2) pada label hitam,” tulis Herditya dalam riset hariannya.
MNC Sekuritas memperkirakan koreksi lanjutan masih berpotensi menguji area 5.899 hingga 5.999 sebelum pasar benar-benar menemukan titik keseimbangan baru.
Adapun support IHSG diperkirakan berada pada level 5.996 dan 5.899, sedangkan resistance berada di area 6.318 hingga 6.459.
Meski masih dibayangi volatilitas tinggi, sejumlah analis mulai merekomendasikan saham-saham defensif dan emiten dengan fundamental kuat untuk dicermati investor.
Mirae Asset Sekuritas merekomendasikan saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS), PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), dan PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM).
Sementara MNC Sekuritas merekomendasikan investor mencermati saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk (HMSP), PGAS, serta WIIM.
Saham sektor konsumsi dan energi dinilai relatif lebih defensif di tengah kondisi pasar yang masih penuh tekanan.
Analis pasar modal melihat situasi saat ini sebagai fase penting bagi investor. Di satu sisi, tekanan global masih membayangi, tetapi di sisi lain valuasi saham Indonesia mulai terlihat menarik dibandingkan kawasan regional.
Beberapa pelaku pasar bahkan mulai melihat peluang pemulihan apabila arus dana asing kembali masuk setelah kepastian arah kebijakan suku bunga global mulai terlihat.
Selain itu, stabilitas nilai tukar rupiah dan langkah Bank Indonesia menjaga likuiditas pasar akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah pergerakan IHSG ke depan.
Tekanan terhadap pasar saham Indonesia sendiri tidak bisa dilepaskan dari kondisi global. Ketidakpastian ekonomi dunia, konflik geopolitik, hingga kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi di sejumlah negara besar membuat investor cenderung memilih aset aman.
Namun dalam sejarah pasar modal, fase koreksi dalam sering kali menjadi momentum terbaik bagi investor jangka panjang untuk melakukan akumulasi.
Saat harga saham berada di level murah, investor dengan strategi jangka panjang biasanya mulai masuk secara bertahap untuk memanfaatkan potensi kenaikan di masa mendatang.
Meski demikian, analis tetap mengingatkan investor agar berhati-hati dan tidak terburu-buru melakukan pembelian agresif.
Volatilitas pasar diperkirakan masih tinggi dalam beberapa waktu ke depan, terutama jika tekanan eksternal kembali meningkat.
Karena itu, strategi bertahap dan selektif dinilai menjadi pendekatan paling aman di tengah kondisi pasar saat ini.
Investor juga diimbau lebih fokus pada emiten dengan fundamental kuat, arus kas stabil, dan tingkat utang yang sehat agar lebih tahan menghadapi gejolak pasar.
Di tengah tekanan besar yang terjadi, satu hal mulai terlihat jelas: pasar saham Indonesia memasuki fase krusial yang dapat menentukan arah baru pergerakan IHSG dalam beberapa bulan mendatang.
Jika technical rebound benar-benar terjadi dan investor institusi mulai aktif melakukan akumulasi, bukan tidak mungkin IHSG perlahan bangkit dari tekanan terdalamnya tahun ini.
Namun bila arus keluar dana asing terus berlanjut dan sentimen global memburuk, tekanan pasar masih berpotensi berlangsung lebih lama.
Kini seluruh perhatian pelaku pasar tertuju pada satu pertanyaan besar: apakah ini awal rebound besar IHSG, atau justru jebakan teknikal sebelum koreksi lanjutan?
Baca Juga
Komentar