Terbaru Sektor Manufaktur China Stagnan pada Mei 2026 Imbas Kenaikan Biaya Energi Akibat Konflik Timur Tengah
BEIJING – Aktivitas sektor manufaktur China mengalami stagnasi pada Mei 2026 seiring melemahnya permintaan dan meningkatnya biaya energi akibat konflik yang berkepanjangan di kawasan Timur Tengah.
Data terbaru dari Biro Statistik Nasional China (NBS) menunjukkan Indeks Manajer Pembelian (Purchasing Managers' Index/PMI) manufaktur berada di level 50,0 pada Mei 2026. Angka tersebut sesuai dengan perkiraan para ekonom yang disurvei Bloomberg, namun lebih rendah dibandingkan capaian April yang berada di level 50,3 dan Maret sebesar 50,4.
PMI merupakan salah satu indikator utama yang digunakan untuk mengukur aktivitas sektor industri. Angka di atas 50 menunjukkan ekspansi atau pertumbuhan aktivitas manufaktur, sedangkan angka di bawah 50 mengindikasikan kontraksi.
Posisi PMI yang tepat berada di level 50 menunjukkan bahwa aktivitas manufaktur China praktis tidak mengalami pertumbuhan maupun penurunan selama bulan Mei.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah meningkatnya tekanan biaya produksi akibat lonjakan harga energi global. Konflik yang melibatkan sejumlah negara di Timur Tengah telah mengganggu jalur distribusi energi internasional, termasuk terhambatnya pengiriman minyak dan gas melalui Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur energi terpenting dunia.
Gangguan distribusi tersebut menyebabkan harga energi global meningkat tajam dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi ini berdampak langsung terhadap sektor manufaktur China yang sangat bergantung pada pasokan energi untuk mendukung aktivitas produksi.
Pabrik-pabrik di berbagai wilayah China dilaporkan menghadapi kenaikan biaya bahan baku, terutama pada sektor-sektor yang berkaitan erat dengan energi dan industri kimia.
Ahli Statistik NBS, Huo Lihui, mengatakan sejumlah industri masih menunjukkan tren pelemahan baik dari sisi penawaran maupun permintaan.
"Baik penawaran maupun permintaan di industri termasuk minyak bumi, karet, dan plastik menunjukkan kelemahan yang berkelanjutan," ujar Huo Lihui seperti dikutip CNA, Senin (1/6/2026).
Selain tekanan eksternal akibat kenaikan biaya energi, sektor manufaktur China juga masih dibayangi tantangan domestik yang belum sepenuhnya pulih. Dalam beberapa tahun terakhir, ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut menghadapi perlambatan konsumsi masyarakat, lemahnya investasi sektor swasta, serta tekanan di sektor properti yang berimbas pada aktivitas industri secara keseluruhan.
Kondisi tersebut membuat banyak perusahaan manufaktur harus menghadapi permintaan pasar yang belum sepenuhnya stabil meskipun pemerintah China terus mengeluarkan berbagai kebijakan stimulus ekonomi.
Meski sektor manufaktur mengalami stagnasi, terdapat sinyal positif dari sektor jasa dan konstruksi. Data NBS menunjukkan PMI non-manufaktur China meningkat menjadi 50,1 pada Mei 2026, naik dari 49,4 pada April.
Kenaikan tersebut menunjukkan aktivitas sektor jasa dan konstruksi mulai kembali bergerak ke zona ekspansi setelah sebelumnya sempat mengalami kontraksi.
Perbaikan di sektor non-manufaktur memberikan harapan bahwa ekonomi China masih memiliki penopang pertumbuhan di tengah tekanan global yang meningkat. Namun para analis menilai keberlanjutan pemulihan ekonomi China masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik, stabilitas harga energi, serta efektivitas kebijakan pemerintah dalam mendorong konsumsi domestik.
Jika harga energi global terus bertahan tinggi dan gangguan distribusi melalui Selat Hormuz belum terselesaikan, sektor manufaktur China berpotensi menghadapi tekanan yang lebih besar pada semester kedua tahun 2026.
Sebagai negara manufaktur terbesar di dunia, perlambatan aktivitas industri China juga berpotensi memberikan dampak terhadap rantai pasok global, perdagangan internasional, serta pertumbuhan ekonomi berbagai negara yang memiliki hubungan dagang erat dengan Beijing.
Para pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan pemerintah China dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mengantisipasi dampak lanjutan dari ketidakpastian geopolitik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.
Baca Juga
Komentar