Putin ke Beijing Usai Trump Pulang, Terungkap Fakta China hari ini Kirim Sinyal Kuat ke Barat soal Poros Baru Dunia
JAKARTA — Peta geopolitik global kembali memanas setelah Presiden Rusia Vladimir Putin tiba di Beijing untuk melakukan kunjungan kenegaraan hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump meninggalkan China. Momentum kunjungan tersebut langsung memicu perhatian dunia internasional karena dinilai menjadi simbol semakin eratnya hubungan strategis antara Rusia dan China di tengah rivalitas global yang terus meningkat.
Kedatangan Putin ke Beijing tidak hanya dipandang sebagai agenda diplomatik biasa, tetapi juga dianggap sebagai pesan politik yang sangat kuat kepada Barat, khususnya Amerika Serikat dan sekutunya. Apalagi hubungan antara Moskow dan Beijing selama beberapa tahun terakhir terus menunjukkan intensitas kerja sama yang semakin dalam, baik di bidang ekonomi, energi, pertahanan, hingga diplomasi internasional.
Media pemerintah China menyebut kunjungan ini sebagai salah satu pertemuan paling penting tahun ini. Bahkan, menurut data diplomatik China, kunjungan kali ini menjadi lawatan ke-25 Putin ke Negeri Tirai Bambu sejak menjabat sebagai pemimpin Rusia.
Hubungan personal antara Putin dan Presiden China Xi Jinping juga disebut sangat dekat. Keduanya tercatat telah bertemu lebih dari 40 kali dalam berbagai forum bilateral maupun internasional. Intensitas pertemuan tersebut jauh melampaui hubungan Xi dengan pemimpin negara Barat lainnya.
Banyak pengamat menilai Beijing sengaja memanfaatkan momentum kedatangan Trump dan Putin dalam waktu berdekatan untuk menunjukkan posisi China sebagai pusat kekuatan diplomasi dunia yang baru.
Analis senior International Crisis Group, William Yang, menyebut China sedang berupaya memperlihatkan bahwa Beijing memiliki pengaruh global yang semakin besar dan tidak mudah diisolasi oleh tekanan Washington.
“Menjadi tuan rumah bagi dua pemimpin paling berpengaruh di dunia dalam hitungan hari menunjukkan meningkatnya kepercayaan diri China terhadap posisi dan pengaruhnya di dunia,” ujar Yang seperti dikutip dari media internasional, Rabu (20/5/2026).
Menurutnya, Xi Jinping ingin mengirim sinyal politik bahwa China masih memiliki mitra strategis kuat sehingga Amerika Serikat tidak bisa dengan mudah menekan atau mengisolasi Beijing dalam percaturan geopolitik internasional.
Kunjungan Putin sendiri berlangsung dalam situasi yang tidak mudah bagi Rusia. Setelah lebih dari dua tahun konflik berkepanjangan di Ukraina, tekanan ekonomi terhadap Moskow terus meningkat akibat sanksi Barat yang belum mereda.
Banyak sektor ekonomi Rusia mengalami tekanan berat, terutama perdagangan internasional, akses teknologi, hingga pasar energi di Eropa yang selama ini menjadi salah satu sumber pemasukan utama Kremlin.
Dalam kondisi tersebut, China menjadi salah satu mitra paling penting bagi Rusia. Beijing diketahui tetap menjaga hubungan ekonomi dengan Moskow dan tidak ikut menjatuhkan sanksi seperti negara-negara Barat.
Bahkan sejak perang Ukraina pecah, perdagangan bilateral Rusia-China justru mengalami peningkatan signifikan. China membeli energi fosil Rusia dalam jumlah besar, mulai dari minyak mentah, batu bara, hingga gas alam.
Putin dalam pidato videonya menjelang kunjungan menyebut hubungan Rusia dan China telah mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Ia menekankan kerja sama kedua negara kini semakin erat, termasuk penggunaan mata uang lokal seperti rubel dan yuan dalam transaksi perdagangan untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat.
Selain itu, Rusia dan China juga mulai memperluas kerja sama mobilitas masyarakat melalui kebijakan bebas visa terbatas demi meningkatkan arus perdagangan dan investasi.
“Hubungan Rusia-China berkembang berdasarkan prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan kepentingan strategis bersama,” kata Putin.
Namun di balik narasi “kemitraan setara” yang digaungkan Kremlin, sejumlah analis menilai posisi Rusia kini semakin bergantung pada China.
Kondisi ekonomi Rusia yang tertekan akibat sanksi membuat Beijing memiliki posisi tawar jauh lebih besar dibanding beberapa tahun sebelumnya. Bahkan sejumlah pengamat menyebut Rusia perlahan berubah menjadi mitra junior dalam hubungan strategis tersebut.
Meski demikian, Kremlin tetap menegaskan hubungan kedua negara berjalan secara seimbang dan saling menguntungkan.
Salah satu fokus utama dalam kunjungan Putin kali ini adalah sektor energi. Para analis memperkirakan kedua negara akan mempercepat pembahasan proyek strategis pipa gas Power of Siberia 2.
Proyek pipa gas sepanjang sekitar 2.600 kilometer tersebut dirancang untuk menghubungkan Rusia dengan China melalui wilayah Mongolia.
Jika terealisasi penuh, proyek ini diperkirakan mampu menyalurkan tambahan gas Rusia hingga 50 miliar meter kubik per tahun ke pasar China.
Bagi Rusia, proyek tersebut sangat penting untuk menggantikan pasar energi Eropa yang hilang akibat sanksi dan ketegangan politik pasca perang Ukraina.
Sementara bagi China, akses energi darat dari Rusia dinilai strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur laut internasional yang rentan terganggu konflik geopolitik.
Beijing selama ini sangat memperhatikan keamanan jalur energi global, terutama Selat Hormuz dan Laut China Selatan yang menjadi kawasan sensitif dalam persaingan militer internasional.
Meski begitu, China juga tetap berhati-hati agar tidak terlalu bergantung pada Rusia di tengah ambisi Beijing memperkuat swasembada energi nasional.
Selain isu energi, hubungan erat Beijing dan Moskow juga menjadi perhatian serius negara-negara Barat. Amerika Serikat dan Uni Eropa terus menuding China membantu menopang ekonomi Rusia di tengah perang Ukraina.
Barat juga menyoroti ekspor barang teknologi dari China ke Rusia yang disebut memiliki fungsi ganda dan berpotensi digunakan untuk kebutuhan militer.
Beberapa pekan terakhir, ketegangan kembali meningkat setelah pemerintah Inggris menjatuhkan sanksi terhadap dua entitas bisnis asal China yang diduga terlibat mendukung rantai pasok Rusia.
Langkah tersebut langsung mendapat protes keras dari Beijing. Pemerintah China menegaskan pihaknya tidak menerima tuduhan Barat dan menyebut sanksi sepihak hanya memperkeruh situasi internasional.
Kunjungan Putin ke Beijing pun dipandang bukan sekadar agenda bilateral biasa, melainkan simbol semakin menguatnya poros geopolitik baru yang menantang dominasi Barat.
Di tengah dunia yang semakin terpolarisasi, hubungan China dan Rusia kini berkembang menjadi salah satu faktor paling menentukan arah politik global beberapa tahun ke depan.
Banyak pengamat percaya hubungan kedua negara akan terus diperkuat selama tekanan Barat terhadap Moskow dan Beijing masih berlangsung.
Bagi China, Rusia merupakan mitra strategis penting untuk menjaga keseimbangan kekuatan global. Sementara bagi Rusia, dukungan Beijing menjadi salah satu penopang utama di tengah tekanan ekonomi dan diplomatik internasional.
Pertemuan Xi Jinping dan Vladimir Putin kali ini pun diyakini akan menghasilkan berbagai kesepakatan strategis baru yang dapat memengaruhi konstelasi geopolitik dunia secara signifikan.
Di sisi lain, dunia kini terus memantau bagaimana respons Amerika Serikat dan sekutu Barat terhadap semakin eratnya hubungan Beijing dan Moskow.
Sebab rivalitas antara kekuatan Barat dengan poros China-Rusia diperkirakan akan menjadi salah satu penentu utama stabilitas global pada era baru geopolitik internasional.
Baca Juga
Komentar