Hari Ini IHSG Dibayangi Tekanan Asing dan FTSE Russell, Analis Sebut Peluang Rebound Mulai Terbuka
Jakarta – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pekan terakhir Mei 2026 masih dibayangi tekanan jual asing dan sentimen global. Namun di tengah kondisi pasar yang bergejolak, sejumlah analis mulai melihat peluang technical rebound setelah indeks memasuki area jenuh jual atau oversold.
Pasar saham Indonesia saat ini berada dalam fase yang sangat sensitif. Selain tekanan dari arus keluar dana asing, investor juga tengah mencermati dampak review indeks global FTSE Russell yang mengeluarkan beberapa saham Indonesia dari daftar konstituennya.
Situasi tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati. Meski demikian, sebagian analis menilai koreksi tajam yang terjadi justru membuka peluang akumulasi bagi investor jangka menengah hingga panjang.
Investment Advisor Sucor Sekuritas, Yoser A. Triastomo, mengatakan tekanan terhadap IHSG masih akan terasa dalam beberapa hari ke depan, terutama setelah pengumuman FTSE Russell dan mendekati implementasi rebalancing MSCI pada akhir Mei.
Menurutnya, meskipun efek FTSE tidak sebesar MSCI, sentimen negatif tetap memberikan tambahan tekanan terhadap indeks, terutama pada saham-saham yang dikeluarkan dari konstituen global.
“Dalam list constituent FTSE punya DSSA per April 2026 sebesar 3,14 persen sehingga sentimen FTSE akan memberikan tambahan tekanan melihat MSCI akan efektif di 29 Mei 2026 jadi tekanan jual masih akan tetap ada namun tidak sesignifikan tekanan dari MSCI,” ujar Yoser dalam keterangannya, Senin (25/5/2026).
Ia memperkirakan IHSG bergerak pada area support 5.814 hingga 5.960 dengan resistance di kisaran 6.540 sampai 6.671. Pergerakan tersebut juga dipengaruhi hari libur bursa pada 27 dan 28 Mei yang biasanya membuat volume transaksi lebih tipis.
Dalam kondisi pasar seperti sekarang, investor disebut mulai selektif memilih saham yang memiliki fundamental kuat dan valuasi menarik. Yoser merekomendasikan sejumlah saham yang layak dicermati pelaku pasar, yakni ADRO, BUMI, ESSA, BMRI, dan WIFI.
Tekanan Asing Masih Dominan
Meski peluang rebound mulai terlihat, tekanan asing dinilai belum sepenuhnya mereda. Investor global masih cenderung melakukan aksi jual di emerging market, termasuk Indonesia.
Direktur Infovesta, Wawan Hendrayana, menilai pergerakan IHSG hingga akhir Mei masih berpotensi berada dalam tren koreksi meski ada peluang rebound jangka pendek.
Menurutnya, sentimen global menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju penguatan pasar domestik. Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran disebut ikut memperburuk sentimen investor global terhadap aset berisiko.
“Hingga akhir bulan masih cenderung akan terkoreksi dan bila ada technical rebound bersifat pendek,” ujar Wawan.
Ia memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang 6.000 hingga 6.300 dalam jangka pendek.
Selain konflik geopolitik, pasar juga tengah mengantisipasi efek lanjutan dari keputusan FTSE Russell yang mengeluarkan empat saham Indonesia dari indeks mereka.
Keempat saham tersebut ialah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Hillcon Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA).
FTSE Russell mencoret DSSA dari kategori large cap karena tingginya konsentrasi kepemilikan saham atau failed high shareholding concentration. Sementara DAAZ dikeluarkan karena gagal memenuhi syarat minimum free float.
Adapun HILL dan MLIA terkena exclusion akibat failed surveillance stocks screen.
Keputusan tersebut langsung memicu tekanan pada sejumlah saham terkait. Pada perdagangan Jumat (22/5/2026), saham DSSA ditutup anjlok 10,66 persen ke level Rp545 per saham.
Sementara itu, saham HILL turun 6,67 persen ke level Rp14. Sedangkan MLIA terkoreksi tipis menjadi Rp250 per saham. Di sisi lain, DAAZ justru mampu menguat 5,59 persen ke posisi Rp1.700.
FTSE Russell masih membuka kemungkinan revisi hingga penutupan perdagangan 5 Juni 2026. Namun setelah 8 Juni 2026, perubahan indeks akan bersifat final kecuali terjadi kondisi luar biasa.
Investor Domestik Mulai Berburu Diskon
Di tengah tekanan pasar, sejumlah analis melihat mulai munculnya peluang akumulasi saham murah.
Banyak saham big caps saat ini dinilai berada di level valuasi menarik setelah terkoreksi cukup dalam sejak awal tahun.
Kondisi tersebut berpotensi dimanfaatkan investor institusi domestik seperti dana pensiun, perusahaan asuransi, dan manajer investasi untuk melakukan bottom fishing.
Aksi beli bertahap biasanya mulai muncul ketika indeks memasuki area oversold ekstrem, terutama jika tekanan jual asing mulai mereda.
Selain faktor teknikal, pelaku pasar juga menyoroti sejumlah sentimen domestik yang memengaruhi pergerakan pasar.
Pemerintah saat ini tengah menggodok kebijakan sentralisasi ekspor melalui Danantara yang menuai perhatian lembaga pemeringkat global seperti Moody’s dan S&P.
Kedua lembaga tersebut menilai kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor asing terhadap iklim investasi Indonesia jika implementasinya tidak dilakukan secara hati-hati.
Di sisi lain, Kementerian Keuangan juga mengungkap dugaan manipulasi harga ekspor crude palm oil (CPO) oleh sepuluh korporasi besar.
Isu tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas sektor komoditas yang selama ini menjadi penopang utama pasar saham Indonesia.
Namun sejumlah sentimen positif juga mulai muncul dari sektor energi dan perbankan.
Emiten perbankan besar seperti BBCA masih membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 3 persen secara tahunan pada empat bulan pertama 2026.
Selain itu, perusahaan energi global Eni berhasil mengamankan kontrak LNG jangka panjang sebesar 2 MTPA dari proyek South & North Hub Indonesia.
Sektor energi juga mendapat katalis tambahan setelah pemerintah memastikan implementasi program bensin E5 bersamaan dengan B50 mulai 1 Juli 2026.
Rekomendasi Saham Pilihan
Dalam kondisi pasar penuh volatilitas, analis menyarankan investor tetap disiplin dalam menentukan strategi investasi.
Pendekatan trading jangka pendek dinilai masih relevan mengingat pergerakan pasar yang fluktuatif.
Beberapa rekomendasi saham yang dinilai menarik untuk dicermati pada perdagangan pekan ini antara lain:
DEWA dengan area beli di 378 dan target harga 388.
INCO dengan entry price 5.550 dan target 5.675.
JPFA dengan target kenaikan menuju area 2.630.
Selain itu, saham-saham seperti BMRI, ADRO, ESSA, PGAS, dan BBCA juga disebut masih memiliki prospek menarik dalam jangka menengah karena ditopang fundamental kuat.
Meski peluang rebound mulai terlihat, investor diingatkan tetap mewaspadai volatilitas tinggi yang masih berpotensi terjadi hingga akhir Mei.
Pergerakan pasar global, arus modal asing, serta keputusan lembaga indeks internasional masih menjadi faktor utama yang menentukan arah IHSG dalam jangka pendek.
Pelaku pasar juga menunggu kepastian perkembangan geopolitik global serta arah kebijakan ekonomi pemerintah yang dapat memengaruhi kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia.
Di tengah kondisi tersebut, strategi selektif dan manajemen risiko menjadi kunci utama agar investor tetap dapat memanfaatkan peluang tanpa terjebak dalam tekanan koreksi pasar yang masih berlangsung.
Baca Juga
Komentar