Hari Ini (29/05) Saham AMRT Anjlok Tajam, Fakta Kopdes Merah Putih Disebut Jadi Ancaman Baru Ritel Modern
JAKARTA – Kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam menghidupkan kembali semangat koperasi desa mulai memunculkan efek besar di pasar ritel modern dan bursa saham Indonesia. Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes KMP) yang digarap melalui Agrinas Pangan Nusantara kini menjadi sorotan investor setelah muncul wacana penghentian izin gerai baru minimarket modern seperti Alfamart dan Indomaret.
Dampaknya langsung terasa di lantai Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) pemilik jaringan Alfamart mengalami tekanan hebat dan terus bergerak di zona merah. Sebaliknya, saham PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) yang terafiliasi dengan jaringan Indomaret justru menunjukkan pergerakan berbeda dengan tren penguatan.
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan besar di kalangan investor dan pelaku pasar: apakah kehadiran Kopdes Merah Putih benar-benar menjadi ancaman serius bagi dominasi ritel modern di Indonesia?
Program Kopdes Merah Putih sendiri diproyeksikan menjadi tulang punggung ekonomi kerakyatan berbasis desa. Pemerintah ingin koperasi tidak lagi sekadar simbol ekonomi masa lalu, tetapi berkembang menjadi pusat distribusi pangan, kebutuhan pokok, hingga barang subsidi pemerintah.
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Yandri Susanto sebelumnya menyerukan penghentian izin gerai baru minimarket modern demi memberikan ruang lebih besar bagi pertumbuhan koperasi desa. Pernyataan itu langsung memicu sentimen negatif di pasar saham, khususnya terhadap emiten ritel modern.
Pada perdagangan Selasa, 26 Mei 2026, saham AMRT ditutup di level Rp1.190 per lembar atau anjlok 8,11 persen dibanding hari sebelumnya. Jika dihitung sejak awal tahun atau year to date, saham emiten milik Djoko Susanto itu sudah terpangkas sekitar 40 persen dari posisi awal Januari 2026 di level Rp1.985 per saham.
Dalam rentang 52 minggu terakhir, saham AMRT sempat menyentuh level tertinggi Rp2.630 sebelum akhirnya terperosok ke kisaran Rp1.150. Tekanan terhadap saham AMRT juga semakin berat setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengeluarkan saham tersebut dari MSCI Global Standard Index dan menurunkannya ke MSCI Global Small Cap Index.
Efektif pada penutupan perdagangan 29 Mei 2026, keluarnya AMRT dari indeks MSCI diperkirakan memicu aksi jual besar-besaran dari investor institusi global yang mengikuti indeks tersebut. Bersama AMRT, sejumlah saham besar lain seperti AMMN, BREN, TPIA, DSSA, dan CUAN juga mengalami nasib serupa.
Meski harga saham terus merosot, secara fundamental kinerja AMRT sebenarnya masih sangat solid. Sepanjang kuartal I 2026, perusahaan mencatat penjualan bersih Rp35,24 triliun atau tumbuh 7,53 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Laba bersih perusahaan juga naik menjadi Rp1,07 triliun dari sebelumnya Rp975 miliar. Total aset perusahaan meningkat menjadi Rp45,8 triliun dengan jaringan sekitar 23.636 gerai di seluruh Indonesia dan lebih dari 42 ribu karyawan.
Namun pasar tampaknya lebih fokus pada sentimen jangka pendek, terutama kekhawatiran bahwa ekspansi gerai modern akan dibatasi pemerintah demi mendukung penguatan koperasi desa.
Berbeda dengan AMRT, saham DNET justru menunjukkan performa positif. Pada perdagangan yang sama, saham DNET menguat 1,54 persen ke level Rp9.900 per saham. Sejak awal tahun, saham ini telah naik sekitar 10 persen dari posisi Rp9.000.
Investor menilai struktur bisnis DNET lebih beragam dan tidak hanya bergantung pada ekspansi minimarket. Selain memiliki keterkaitan dengan jaringan Indomaret, DNET juga memiliki lini bisnis di sektor teknologi dan infrastruktur digital.
Kapitalisasi pasar DNET kini mencapai lebih dari Rp140 triliun dengan dukungan pemegang saham besar seperti Anthoni Salim dan Hannawell Group Limited.
Sepanjang kuartal I 2026, DNET mencatat laba bersih Rp233,62 miliar atau tumbuh 14,1 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya. Pendapatan perusahaan naik menjadi Rp425 miliar, sementara total aset mencapai Rp23,72 triliun.
Meski pasar mulai mengaitkan Kopdes Merah Putih dengan ancaman bagi minimarket modern, sejumlah pengamat menilai persoalan utama sebenarnya bukan koperasi desa, melainkan ketidakseimbangan pasar ritel modern yang sudah berlangsung lama.
Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES), Suroto, mengatakan dominasi ritel modern saat ini memang sudah terlalu besar hingga menjangkau kawasan perkampungan dan gang kecil.
Menurutnya, masalah utamanya adalah pelanggaran aturan zonasi, tata ruang, hingga indikasi praktik monopoli usaha. Ia mengingatkan bahwa Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 18 Tahun 2022 sebenarnya membatasi kepemilikan gerai maksimal 150 outlet untuk satu perusahaan.
Namun dalam praktiknya, jaringan minimarket modern terus berkembang masif hingga mencapai lebih dari 40 ribu outlet di seluruh Indonesia.
“Pengaturan tata ruang dan larangan monopoli merupakan amanat undang-undang untuk melindungi masyarakat dan menciptakan keadilan ekonomi,” ujar Suroto.
Ia menegaskan keberadaan Kopdes Merah Putih bukan untuk mematikan usaha modern, tetapi menciptakan keseimbangan ekonomi agar masyarakat desa memiliki akses terhadap distribusi barang dan keuntungan usaha.
Kopdes Merah Putih nantinya akan menjadi jalur distribusi berbagai barang subsidi pemerintah seperti gas melon, Minyakita, pupuk, beras SPHP, hingga kebutuhan pokok lainnya. Sistem itu diharapkan membuat distribusi lebih tepat sasaran sekaligus mengurangi dominasi distributor besar.
Suroto juga mencontohkan keberhasilan koperasi NTUC FairPrice di Singapura yang mampu menjadi jaringan ritel dominan tanpa mematikan ekonomi rakyat. Menurutnya, koperasi modern dapat berkembang jika dikelola profesional dan benar-benar dimiliki masyarakat.
Di sisi lain, sejumlah analis pasar menilai tekanan terhadap saham ritel modern masih akan berlangsung dalam jangka pendek karena sentimen kebijakan pemerintah dan rebalancing MSCI.
Namun investor jangka panjang dinilai tetap akan mempertimbangkan fundamental perusahaan yang sejauh ini masih cukup kuat. Konsumsi masyarakat Indonesia yang besar juga dinilai tetap menjadi faktor penopang utama bisnis ritel modern.
Analis pasar modal melihat transformasi koperasi desa memang dapat mengubah peta distribusi barang nasional dalam beberapa tahun ke depan. Jika Kopdes Merah Putih berhasil berkembang agresif dengan dukungan pemerintah, maka persaingan ritel modern dipastikan akan semakin ketat.
Meski begitu, tantangan koperasi juga tidak ringan. Pengelolaan manajemen, distribusi logistik, transparansi, hingga kualitas sumber daya manusia akan menjadi faktor penentu keberhasilan program tersebut.
Pemerintah sendiri menargetkan Kopdes Merah Putih tidak hanya menjadi pusat perdagangan desa, tetapi juga pusat pertumbuhan ekonomi lokal yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Di tengah dinamika tersebut, pasar saham Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatil, terutama pada saham-saham sektor konsumsi dan ritel yang sensitif terhadap arah kebijakan pemerintah.
Investor kini menunggu langkah lanjutan pemerintah terkait regulasi ritel modern sekaligus realisasi program Kopdes Merah Putih yang disebut-sebut akan menjadi wajah baru ekonomi kerakyatan Indonesia di era pemerintahan Prabowo-Gibran.
Baca Juga
Komentar