Fakta IHSG Hari Ini Asing Net Sell Rp2,22 Triliun! Terungkap Rupiah Cetak Rekor Terlemah
JAKARTA — Pasar keuangan Indonesia kembali menghadapi tekanan berat pada awal pekan. Meski Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat 0,72 persen ke level 6.206,35 pada perdagangan Senin (25/5/2026), investor asing justru mencatat aksi jual bersih atau net sell jumbo mencapai Rp2,22 triliun. Di saat bersamaan, nilai tukar rupiah kembali melemah dan menyentuh level terburuk sepanjang tahun 2026 di posisi Rp17.743 per dolar Amerika Serikat.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi domestik di tengah meningkatnya tekanan global, konflik geopolitik, serta arus modal asing yang terus keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Analis menilai penguatan IHSG yang terjadi belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan fundamental pasar. Sebaliknya, pergerakan indeks lebih banyak ditopang aksi technical rebound dan perburuan saham murah setelah koreksi tajam dalam beberapa pekan terakhir.
Tekanan asing terhadap pasar modal Indonesia diperkirakan masih akan berlangsung hingga akhir Mei, terutama setelah sejumlah sentimen global memicu peningkatan aversi risiko investor internasional.
Rupiah Melemah, Investor Asing Keluar Besar-Besaran
Pelemahan rupiah menjadi sorotan utama pelaku pasar pada perdagangan awal pekan ini. Kurs rupiah yang mendekati level Rp17.800 per dolar AS dinilai menunjukkan meningkatnya tekanan terhadap pasar keuangan nasional.
Sejumlah analis menyebut pelemahan rupiah dipicu kombinasi faktor global dan domestik. Dari eksternal, pasar masih dibayangi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas perdagangan global dan harga energi dunia.
Selain itu, langkah FTSE Russell yang mengeluarkan beberapa saham Indonesia dari indeks global turut memperburuk sentimen pasar.
Investor asing disebut mulai melakukan reposisi portofolio untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di emerging market. Akibatnya, tekanan jual asing di Bursa Efek Indonesia terus meningkat dalam beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, pasar juga masih mencermati dampak rebalancing MSCI yang dijadwalkan efektif pada akhir Mei 2026. Meskipun efek FTSE Russell dinilai tidak sebesar MSCI, keluarnya beberapa saham dari indeks global tetap memicu kekhawatiran terhadap likuiditas dan arus dana asing.
FTSE Russell Depak Saham RI, Pasar Kian Tertekan
Penyedia indeks global FTSE Russell sebelumnya mengumumkan penghapusan sejumlah saham Indonesia dari konstituen indeks mereka. Salah satu yang menjadi perhatian pasar ialah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA).
DSSA dikeluarkan dari kategori large cap FTSE Global Equity Index Series (GEIS) karena dinilai memiliki konsentrasi kepemilikan saham terlalu tinggi atau failed high shareholding concentration.
Selain DSSA, FTSE Russell juga menghapus saham PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ), PT Hillcon Tbk (HILL), dan PT Mulia Industrindo Tbk (MLIA) dari kategori micro cap.
Keputusan tersebut memicu tekanan tambahan terhadap pasar saham domestik karena berpotensi mengurangi aliran dana investor global ke sejumlah emiten Indonesia.
Pelaku pasar menilai keputusan FTSE Russell menjadi sinyal bahwa pasar Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dari sisi likuiditas dan kualitas free float emiten.
Meski demikian, FTSE Russell masih membuka kemungkinan revisi hingga penutupan perdagangan 5 Juni 2026 sebelum keputusan final berlaku penuh.
Sentimen Global dan Domestik Masih Membayangi
Selain tekanan dari indeks global, pasar domestik juga dibebani sejumlah isu ekonomi strategis. Salah satunya terkait rencana sentralisasi ekspor komoditas nasional yang menuai respons negatif dari lembaga pemeringkat internasional seperti Moody’s dan S&P.
Kedua lembaga tersebut menilai kebijakan tersebut berpotensi memengaruhi persepsi investor terhadap iklim investasi Indonesia serta meningkatkan risiko kredit nasional apabila tidak dilakukan secara hati-hati.
Di sektor energi, pemerintah juga mulai menyiapkan implementasi bensin E5 dan biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026. Kebijakan tersebut diproyeksikan meningkatkan kebutuhan investasi dan penyesuaian industri energi nasional.
Sementara itu, Menteri Keuangan juga mengungkap dugaan manipulasi harga ekspor crude palm oil (CPO) oleh 10 korporasi besar. Kasus tersebut memunculkan kekhawatiran baru terhadap tata kelola perdagangan komoditas Indonesia.
Dari eksternal, konflik geopolitik global terus memanas. Iran disebut tengah membahas tarif permanen di Selat Hormuz, sementara Amerika Serikat meminta jalur pelayaran internasional tetap dibuka demi menjaga stabilitas distribusi energi global.
Ketegangan NATO juga meningkat setelah AS mengerahkan tambahan 5.000 pasukan ke Polandia. Situasi tersebut membuat investor global semakin berhati-hati terhadap aset berisiko.
IHSG Diprediksi Masih Volatil
Analis pasar modal memperkirakan IHSG masih akan bergerak fluktuatif hingga akhir Mei 2026. Meskipun peluang rebound teknikal masih terbuka, tekanan jual asing dinilai belum sepenuhnya mereda.
Rentang support IHSG diperkirakan berada di area 5.814 hingga 5.960. Sementara level resistance diprediksi berada pada kisaran 6.540 hingga 6.671.
Pasar juga diperkirakan cenderung sepi menjelang libur bursa pada 27 dan 28 Mei 2026.
Beberapa analis menyebut investor domestik mulai memanfaatkan koreksi tajam untuk melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham berfundamental kuat. Namun aksi beli tersebut dinilai belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan keluar dana asing.
Saham yang Direkomendasikan Hari Ini
Di tengah tekanan pasar, sejumlah saham masih dinilai menarik untuk dicermati investor jangka pendek maupun trader harian.
Berikut rekomendasi saham hari ini, Selasa (26/5/2026):
1. ISAT — BUY
Entry Price: 2.160
Target Price: 2.210
Stop Loss: 2.130
Saham PT Indosat Tbk (ISAT) dinilai masih memiliki momentum teknikal positif seiring stabilnya sektor telekomunikasi di tengah ketidakpastian pasar.
2. BRIS — BUY
Entry Price: 1.935
Target Price: 1.975
Stop Loss: 1.915
BRIS diperkirakan masih menarik karena sektor perbankan syariah dinilai relatif defensif menghadapi tekanan pasar global.
3. BBTN — BUY
Entry Price: 1.390
Target Price: 1.425
Stop Loss: 1.370
Saham BBTN menjadi perhatian setelah sektor properti mulai menunjukkan sinyal pemulihan bertahap di tengah ekspektasi stabilisasi suku bunga.
Selain itu, sejumlah saham lain yang dinilai layak dicermati pasar antara lain ADRO, BUMI, ESSA, BMRI, hingga WIFI.
Investor Diminta Tetap Waspada
Pengamat pasar modal mengingatkan investor agar tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi di tengah volatilitas tinggi saat ini.
Meskipun terdapat peluang rebound teknikal, kondisi pasar masih sangat sensitif terhadap sentimen global, arus dana asing, serta perkembangan kebijakan ekonomi pemerintah.
Investor disarankan fokus pada saham dengan fundamental kuat, likuiditas tinggi, dan memiliki kinerja keuangan stabil.
Selain itu, penerapan manajemen risiko seperti penggunaan stop loss dinilai penting untuk menghindari kerugian lebih besar apabila tekanan pasar kembali meningkat.
Di tengah situasi penuh ketidakpastian ini, pasar masih menunggu langkah konkret pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan arus modal keluar, serta memulihkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.
Jika tekanan global terus berlanjut tanpa adanya sentimen positif baru, bukan tidak mungkin IHSG kembali menghadapi fase koreksi lanjutan dalam jangka pendek.
Baca Juga
Komentar