Ketua DK3B Kota Bekasi Alamsyah Praja Dorong Seni Tari Jadi Motor Pelestarian Budaya dan Ekonomi Kreatif
KOTA BEKASI – Ketua Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bekasi (DK3B) periode 2026–2030, Alamsyah Praja, menegaskan komitmennya untuk terus mendorong pengembangan seni dan budaya di Kota Bekasi, khususnya melalui seni tari yang dinilai memiliki potensi besar dalam pelestarian budaya sekaligus menggerakkan ekonomi kreatif masyarakat.
Menurut Alamsyah, keberagaman seni dan budaya yang dimiliki Kota Bekasi merupakan kekayaan luar biasa yang harus terus dirawat dan dikembangkan secara berkelanjutan. Salah satu bidang yang selama ini menjadi fokus perhatiannya adalah seni tari karena memiliki daya jangkau luas dan diminati berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga komunitas seni.
“Keberagaman seni budaya di Kota Bekasi sangat luar biasa. Dari situlah muncul semangat untuk terus memajukan seni budaya, khususnya seni tari, agar semakin berkembang dan dikenal masyarakat luas,” ujar Alamsyah saat diwawancarai terkait perjalanan kesenian di Kota Bekasi.
Alamsyah menjelaskan, upaya pengembangan seni tari yang digagasnya bermula dari pembentukan Gemanusa Patriot Bekasi pada tahun 2016. Organisasi tersebut menjadi wadah untuk menghadirkan berbagai pertunjukan seni berskala besar yang menggabungkan unsur tari dan teater dalam format drama tari kolosal.
Pertunjukan perdana yang digelar saat itu mendapat respons positif dari masyarakat dan menjadi titik awal lahirnya berbagai kegiatan seni kolaboratif di Kota Bekasi.
“Pada tahun 2016 kami menggelar pertunjukan kolosal yang memadukan unsur tari dan teater. Dari situ muncul inspirasi untuk menghadirkan lebih banyak pertunjukan budaya dalam skala besar,” katanya.
Seiring perjalanan waktu, Alamsyah bersama berbagai sanggar seni dan komunitas budaya mulai membangun kolaborasi yang lebih luas. Awalnya kerja sama dilakukan dengan sejumlah sekolah, kemudian berkembang melibatkan forum sanggar seni yang ada di Kota Bekasi.
Dari kolaborasi tersebut lahirlah beberapa karya seni tari, salah satunya Ronggeng Beken yang kemudian menjadi salah satu ikon budaya Kota Bekasi.
Tarian tersebut pertama kali ditampilkan secara besar-besaran pada ajang Pesona Nusantara Bekasi Keren (PNBK) tahun 2017 dengan melibatkan sekitar 3.000 penari dari berbagai sekolah dan sanggar seni.
“Ronggeng Beken menjadi salah satu identitas budaya Kota Bekasi. Saat ditampilkan dalam PNBK, ribuan penari ikut berpartisipasi dan itu menjadi momentum penting bagi perkembangan seni tari di Kota Bekasi,” jelasnya.

Menurut Alamsyah, seni tari dipilih sebagai fokus utama karena memiliki tingkat partisipasi masyarakat yang sangat tinggi dibandingkan cabang seni lainnya.
Selain itu, pengembangan tari dinilai lebih mudah dilakukan karena dapat dijalankan melalui sekolah maupun sanggar yang tersebar di berbagai wilayah.
Alamsyah juga mengapresiasi perhatian Pemerintah Kota Bekasi terhadap perkembangan seni dan budaya.
Ia menilai dukungan terhadap kegiatan kebudayaan semakin terasa, terutama pada masa kepemimpinan Wali Kota Bekasi sebelumnya, Tri Adhianto.
Bahkan, kalangan seniman dan budayawan Kota Bekasi pernah memberikan apresiasi khusus kepada Tri Adhianto sebagai sosok yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian budaya.
“Beliau sangat peduli terhadap kesenian dan kebudayaan. Banyak kegiatan budaya yang mendapat ruang untuk berkembang sehingga para pelaku seni bisa lebih aktif berkarya,” ujarnya.
Sejak tahun 2017, Alamsyah mengaku telah menyutradarai sedikitnya 15 pertunjukan kolosal yang melibatkan ribuan peserta dari berbagai komunitas budaya.
Salah satunya adalah pertunjukan pada peringatan Hari PGRI yang melibatkan sekitar 5.000 pemain dan penari dalam satu panggung kolaborasi besar.
Menariknya, Alamsyah menegaskan bahwa berbagai kegiatan seni yang digelar selama ini tidak semata-mata bertujuan menghadirkan hiburan atau pertunjukan budaya.
Menurutnya, kegiatan seni juga memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.
Ia menyebut setiap penyelenggaraan pertunjukan besar mampu menciptakan peluang usaha bagi pelatih tari, sanggar seni, penyedia kostum, perias, hingga pelaku UMKM yang terlibat dalam kegiatan tersebut.
“Selama ini kegiatan yang kami lakukan bukan mengandalkan dana APBD. Justru kami berupaya menciptakan ruang ekonomi bagi para pelaku seni dan masyarakat melalui event-event budaya,” ungkapnya.
Menurutnya, ketika ribuan penari tampil dalam sebuah pertunjukan, kebutuhan terhadap kostum, perlengkapan seni, hingga jasa pelatihan otomatis meningkat sehingga memberikan manfaat ekonomi langsung bagi masyarakat.
Alamsyah juga menyoroti tingginya minat masyarakat Kota Bekasi terhadap seni tari.
Hal itu terlihat dalam pelaksanaan peringatan Hari Tari Dunia yang digelar beberapa waktu lalu dan berhasil melibatkan sekitar 3.000 penari.
Jumlah tersebut bahkan disebut lebih tinggi dibandingkan sejumlah kota lain yang menggelar kegiatan serupa.
“Sepanjang Jalan Ahmad Yani dipenuhi para penari. Ini membuktikan bahwa minat masyarakat Kota Bekasi terhadap seni tari sangat besar dan potensinya luar biasa,” katanya.
Ia berharap antusiasme tersebut dapat terus dijaga melalui penyelenggaraan berbagai kegiatan budaya yang melibatkan masyarakat secara langsung.
Meski telah menghasilkan banyak pertunjukan besar, Alamsyah menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan seni yang dilakukannya bukan untuk mengejar prestasi atau penghargaan.
Baginya, yang terpenting adalah memberikan ruang aktualisasi bagi generasi muda agar mampu menampilkan hasil latihan dan kreativitas mereka di hadapan publik.
“Tujuan kami bukan sekadar meraih prestasi, tetapi bagaimana anak-anak dan generasi muda mendapatkan pengalaman, berani tampil, dan mencintai budaya daerahnya,” jelasnya.
Melalui DK3B, pihaknya ingin menjadi wadah kolaborasi bagi para seniman, budayawan, pegiat seni, guru seni tari, serta komunitas budaya yang ada di Kota Bekasi.
Sebagai Ketua DK3B Kota Bekasi periode 2026–2030, Alamsyah berharap pemerintah dapat memberikan dukungan yang lebih konkret terhadap pelaksanaan kegiatan seni dan budaya.
Menurutnya, salah satu kebutuhan utama para pelaku seni adalah kepastian ruang dan waktu dalam penyelenggaraan kegiatan budaya agar program-program yang dirancang dapat berjalan maksimal.
Ia optimistis kehadiran DK3B sebagai wadah resmi para seniman dan budayawan akan menjadi motor penggerak dalam upaya pemajuan kebudayaan daerah.
“Alhamdulillah saat ini sudah terbentuk Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bekasi. Harapannya, pemerintah terus memberikan dukungan agar seni dan budaya Kota Bekasi semakin maju, berkembang, dan dikenal lebih luas,” pungkasnya.
Baca Juga
Komentar